Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Kisah Inspiratif: Kita Adalah Apa yang Kita Pikirkan

Kisah Inspiratif: Kita Adalah Apa yang Kita Pikirkan
Dua prajurit Amerika Serikat menjadi tawanan perang di Jepang selama Perang Dunia Kedua. Keduanya selamat dan melanjutkan hidup mereka di tanah air mereka sendiri. Lima puluh tahun kemudian, keduanya bertemu kembali dalam sebuah reuni pada tahun 1995. Di masa ini, Jepang dan Amerika Serikat sudah menjadi sekutu dekat. Segalanya sudah berubah.
Salah satu dari mantan tawanan itu bertanya kepada teman satu perjuangannya itu, “Sudahkah kau memaafkan mereka yang memenjarakanmu?”
“Belum,” sahut mantan tawanan kedua dengan berapi-api.
“Tak akan pernah aku memaafkan mereka.”
“Kalau begitu,” kata mantan tawanan pertama dengan lembut, “tampaknya kau masih terbelenggu dalam penjara mereka.”
Ajaran Buddha dalam Dhammapada yang agung dimulai dengan kalimat-kalimat yang akan selalu melekat dalam ingatan :
Kita adalah apa yang kita pikirkan.
Segala yang kita bangkitkan berasal dari
pikiran kita.
Dengan pikiran, kita membentuk dunia ini.
Berbicaralah atau bertindaklah dengan
pikiran tercela,
maka kesulitan akan mengikutimu.
Laksana roda yang mengikuti ke mana pun
lembu menarik pedati.
Kita adalah apa yang kita pikirkan.
Segala yang kita bangkitkan berasal dari
pikiran kita.
Dengan pikiran, kita membentuk dunia ini.
Berbicaralah atau bertindaklah dengan
pikiran mulia,
Maka kebahagiaan akan mengikutimu.
Laksana bayang-bayang dirimu,
tak terceraikan.


I am muslim. I just wanna say: Setiap agama memiliki ajaran budi pekerti luhur. J
Buku bacaan: Menulis Di Atas Pasir

Kisah Inspiratif: Bagaimana Bersikap

Kisah Inspiratif: Bagaimana Bersikap
Dr. S Radhakrishnan, seorang filsuf besar dan mantan Presiden India, melakukan kunjungan perdana ke Amerika Serikat di masa pemerintahan John F. Kennedy. Cuaca saat itu gelap dan badai tengah melanda Washington. Saat Dr. Radhakrishnan turun dari pesawat, hujan lebat mengguyur dari langit.
Presiden Amerika yang masih muda tersebut menyambut sejawatnya dari India dengan jabat tangan erat dan senyum hangat. “Mohon maaf, cuaca yang sangat buruk bertepatan dengan kunjungan Bapak,” sapa Presiden Kennedy dengan sopan.
Sang filsuf dan negarawan India tersebut tersenyum. “Kita tidak bisa mengubah hal-hal buruk yang harus terjadi, Bapak Presiden,” balasnya. “Tapi kita bisa mengubah cara kita menyikapinya.”

***
Ada kisah lain tentang seorang pria yang saya temui di Pune. Pria itu sedang duduk di tepi jalan, dan ia mengalami cacat mulai dari pinggang ke bawah. Kakinya tidak utuh, hanya sepenggal saja.
“Apa yang terjadi dengan Anda?” Saya bertanya.
“Tidak ada!” jawabnya. “Saya terlahir seperti ini.”
“Maafkan saya karena telah bertanya kawan, siapa yang merawat Anda?” saya
kembali bertanya.
“Ibu saya dan terutama, Tuhan.”
“Apakah Anda mengalami kesulitan atau ketidaknyamanan untuk bergerak?”
“Apakah Anda mengalami kesulitan atau ketidaknyamanan karena Anda tidak memiliki sayap?” ia balik bertanya. “Bukankah akan jauh lebih baik jika Anda sendiri bisa terbang daripada harus menunggu jam keberangkatan pesawat?”
“Hidup adalah perkara kebiasaan,” imbuhnya. “Jika Anda mulai berkeluh kesah, akan ada begitu banyak hal untuk dikeluhkan. Bagaimana cara Anda menyikapi hidup itulah yang terpenting.”



You get it? 
Kutipan pada cerita kedua "Bagaimana cara Anda menyikapi hidup itulah yang terpenting" kata-kata itu seakan tersemat dalam pikiran saya. Semoga cerita di atas tidak hanya menjadi motivasi tapi juga menjadi pengetahuan baru agar kita senantiasa berpikir positif dan mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu. Harapannya kisah-kisah inspiratif seperti ini dapat memotivasi dan menjadikan diri kita pribadi-pribadi dewasa. J 
#Salam #GenerasiPositif
Buku bacaan: Menulis Di Atas Pasir

Kisah Inspiratif: Menulis di Atas Pasir

Kisah Inspiratif: Menulis di Atas Pasir


Dua orang pedagang berpergian menempuh jalur berbahaya yang berkelok-kelok melintasi pegunungan sepi dan berangin kencang di persia. Mereka berdua senang bisa saling menjaga, karena keduanya telah berkarib sejak lama. Masing –masing  pedagang didampingi oleh serombongan nelayan dan kereta api, yang penuh membawa barang dagangan. 

Saat mereka menyeberangi jalan sempit dan berbahaya di gunung, salah satu pedagang, seorang pria bernama Najib, kehilangan pijakan dan terperosok ke dalam sungai yang berbual-bual berarus iar. Pedagang lainnya, yang dikenal sebagai Mussa, tanpa ragu melompat menyusul Najib dan menyelamatkan jiwanya dari bahaya tenggelam.

Kedua sahabat itu saling peluk, air mata mereka menetes Najib memanggil salah satu pelayannya yang paling terampil dan memerintahkannya untuk mengukir kata-kata berikut di atas sebuah batu besar berwarna hitam yang tegak berdiri di situ:

        “Pengelana! Ketahuilah, di sini, di tempat yang liar dan sepi ini, Mussa dengan gagah berani telah menyelamatkan nyawa sahabatnya, Najib.”
           
Lantas kedua sahabat itu melanjutkan perjalanan mereka.
        Tahun demi tahun berlalu, secara kebetulan mereka melakukan perjalanan melalui jalur yang sama. Saat keduanya tiba di lokasi di mana salah satu dari mereka menyelamatkan nyawa yang lain, mereka turun untuk melihat-lihat dan mengenang kembali peristiwa yang tak akan pernah mereka lupakan itu.

Mereka duduk sejenak, membicarakan ini dan itu. Entah berawal dari mana, keduanya berdebat mengenai beberapa hal sepele. Pertengkaran di antara keduanya pun memanas. Dikuasai oleh nafsu amarah, Mussa memukul wajah Najib, dan Najib tersungkur-persis di tempat mereka berpelukan sambil menangis beberapa tahun sebelumnya.

            Najib berdiri dan menatap sahabatnya sejenak. Diambilya sebatang ranting yang tergeletak di dekatnya dan dituliskannya kata-kata berikut di atas pasir putih, di dekat batu hitam besar:

            “Pengelana! Ketahuilah, di sini di tepat yang liar dan sepi ini, Mussa. Setelah mempertengkarkan hal sepele, mematahkan hati sahabatnya, Najib!”

            Salah satu pelayan Najib bertanya kepadanya, “Tuanku, tuan menorehkan catatan kepahlawanan sahabat tuan di atas batu tapi mengapa tuan menuliskan kasarnya perbuatan dia di atas pasir?”

Najib menjawab, “Kenangan akan kebaikan sahabatku dan pertolongannya yang gagah berani akan selalu kuhargai dan kusimpan dalam hatiku selamanya. Tapi cedera yang ia akibatkan padaku, kuharap akan memudar dari ingatanku, bahkan sebelum kata-kata ini memudar dari permukaan pasir!”


Pesan yang dapat kita petik dari kisah 'Menulis di Atas Pasir' adalah..
Maafkan teman-teman Anda, bahkan sebelum mereka meminta maaf dan ketika Anda sudah memaafkan pastikan Anda melupakan!
Semoga bermanfaat.
Buku bacaan: Menulis Di Atas Pasir

Kisah Inspiratif: Melihat Hal Baik dalam Situasi Buruk

Kisah Inspiratif: Melihat  Hal Baik dalam Situasi Buruk
Seorang pemilik pabrik sepatu terkenal di dunia memutuskan untuk memperluas bisnisnya dengan mendirikan cabang baru di sebuah negara yang jauh letaknya dan tak banyak dikenal orang.

Ia memanggil salah seorang manajer pemasaran dan meminta sang eksekutif untuk segera berangkat ke negara tersebut untuk menggali kemungkinan pendirian pabrik baru di sana.

Eksekutif muda tersebut terbang keesokan harinya. Sekitar 24 jam setelah tiba di sana, ia menelepon atasannya. “Tempat ini tidak cocok untuk bisnis kita,” lapornya dengan sedih. “Masyarakat di sini tidak pernah memakai sepatu.

Sebaiknya, kita jangan pernah berpikir untuk mendirikan pabrik sepatu di sini. Ide tersebut tidak cocok. Saya akan pulang dengan penerbangan berikutnya.”

Sang bos sangat tidak puas dengan laporan tersebut. Ia telah bertekad bulat untuk mewujudkan keinginannya. Jadi, ia memberangkatkan seorang manajer muda lainnya dan memberinya perintah yang sama.

Selang beberapa jam setelah mendarat di sana, sang manajer muda menelepon dengan nada sangat bergairah. “Tempat ini luar biasa,” teriaknya. “Bisnis kita bakal laku keras di sini.

Masyarakat di sini bahkan tidak tahu apakah itu sepatu. Jika kita memperkenalkan mereka pada sepatu, kita akan menguasai seluruh pasar yang masih baru dan belum pernah tersentuh siapa pun.


Mohon segera kirim ahli perencanaan dan desainer kita harus mendirikan pabrik di sini dan kita akan menjadi pemimpin pasar!”


Gimana? Sungguh luar biasa kan, perbedaan yang ditimbulkan oleh sikap positif!? 
Selamat berpikir positif para pemenang! #Salam #GenerasiPositif :D
Buku bacaan: Menulis di Atas Pasir