Melakukan Semampuku

Foto bersama Dosen Jurnalistik dan kelompok Praktikum 1 CJMD.

“Satu bulan ini penuh dengan keluh kesah.
Menjalani tugas kuliah yang tiada hentinya.
Satu usai, ada lagi yang lain begitu seterusnya.” 

O ya, perkenalkan Aku adalah seorang mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi (Ikom) di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang. Banyak yang salah paham dengan jurusan Ikom.

Keliru dalam mengartikannya seperti kebanyakan mengira Ikom adalah jurusan Ilmu Komputer. Sehingga, tak jarang teman-teman dari fakultas lain yang baru mengenalku akan mengira aku pandai dalam hal komputer, software, dan desain.

Ya, mungkin kalau desain benar. Sayang, hanya satu semester mendapat mata kuliah desain grafis. Alhasil kemampuanku dibidang desain juga kurang. Apalagi, aku hanya punya laptop kecil berukuran notebook. Hanya bisa diinstalkan software desain portable yang apabila dipakai cukup lama tiba-tiba mati dan desain yang telah kubuat hilang tak tertinggal. :')

Sekarang, usiaku sudah dua puluh tahun. Usia yang sudah bukan waktunya berleha-leha. Usia yang seharusnya sudah memiliki banyak pengalaman dan perencanaan masa depan. Namun, aku merasa waktu tak mengizinkan aku beristirahat.

Kata orang, waktu cepat pertanda kiamat sudah dekat. #sedikit intermezzo
Pagi itu di ruangan laboratorium yang mewah beralaskan karpet dengan tempat duduk empuk seperti sofa. Dindingnya diukir menyerupai anyaman bambu, penuh dengan seni.

Dosenku menjelaskan sebuah materi mengenai macam-macam penulisan berita, cara mengambil sudut pandang, dan memberi kami tugas. Oh, dalam hati aku berkata, pasti akan ada tugas lagi.

Kuliah memang tak terasa greget tanpa tugas. Jadi, bagaimanapun banyaknya tugas aku harus menikmatinya. Aku memilih jurusan ini sehingga aku harus menanggung semua resiko termasuk tugas-tugas dan praktikum selama perkuliahan.

Sudah kuduga, sesaat kemudian dosenku menyuruh kami membentuk sebuah tim jurnalistik untuk praktikum 1 yaitu membuat majalah. Proposal majalah harus jadi minggu depan dan majalah sudah dicetak dua minggu depannya lagi. Waw.. It’s amazing #dengan nada rendah.

Aku senang, untungnya teman-temanku adalah orang-orang yang bisa diajak bekerjasama. Satu kelompok berjumlah enam orang. Dalam tim, harus ada struktur redaksi yang terdiri dari pimpinan redaksi, redaktur pelaksana, wartawan, fotografer, dan layouter. Semua berperan sebagai wartawan dan beberapa yang ahli membidik objek berperan sebagai fotografer.

Aku tak mengira, semua anggota di tim memberiku kepercayaan sebagai pimpinan redaksi. Sehingga, aku merasa 'aku punya tanggungjawab besar di tim ini'. Ditambah aku tidak ingin membuat kepercayaan mereka hilang. Sehingga, mulai hari pemilihan struktur redaksi, aku bertekad melakukan yang terbaik.

Dalam waktu tiga hari, proposal kami jadi. Waktu itu hari Rabu, kami mempresentasikan proposal majalah tim CJ-MD. Sebuah penamaan kelompok yang sarat akan makna CJ-MD (Calon Jurnalis Masa Depan). Oh yeah, kedengarannya lucu but it’s okay for dreamer.

Proposal di ACC setelah hari itu kami mulai menyusun strategi peliputan, penulisan, dan pengeditan berita. Waktu yang tersisa dua minggu lebih empat hari. Bayangkan dalam waktu sesingkat itu kami harus mendapatkan sebuah berita untuk ditaruh di majalah kami.
Ah, ini sangat seru!

Lagi-lagi aku selalu memotivasi diriku untuk tidak banyak mengeluh. Meskipun minggu-minggu itu tugas di mata kuliah lain juga bejibun. Dalam waktu seminggu akhirnya terkumpul tujuh berita. Lega.

Kukira dapat beristirahat lebih awal malam ini. Ternyata sms masuk dari organisasi kampus yang kuikuti. Pesan yang mengingatkan aku bahwa ada diklat esok hari. Malam itu semakin membuatku sesak karena tak hanya satu organisasi yang kuikuti melakukan kegiatan dalam waktu dekat, tetapi ada tiga organisasi. Boom!

Bom waktu meledak! Aku terbangun dengan mata panda dan majalah-majalah berserakan di kamar. Malam tadi aku menghabiskan waktu mempelajari bahasa-bahasa di majalah dan jenis tulisan di dalamnya.

Untung hari itu aku kuliah agak siang setidaknya aku bisa menenangkan pikiran yang sudah mumet dengan berbagai macam tugas kuliah dan organisasi. Rasanya ingin memundurkan diri dari organisasi-organisasi itu. Tapi berat juga bagiku karena ketiganya mempunyai keistimewaan masing-masing.

Organisasi-organisasi itu adalah rohis yang apabila aku keluar, aku tak tau apakah kaki ini akan melangkah ke jalan yang benar atau kembali ke salah. Organisasi yang kurasa mempunyai tantangan di bidang dakwah.

Bukan sekedar penyampaian ayat Al-Qur’an tetapi juga keberkahan bagi yang menyampaikannya dan jawaban ketika di alam barzah. Organisasi kedua adalah organisasi kepenulisan yang aku sukai karena menulis adalah kegemaranku sejak kecil meski kadang menulis juga membuatku stres sendiri.

Terakhir, adalah organisasi ekstra yang begerak di bidang sosial. Organisasi yang kental dengan sifat kekeluargaan dan humorisnya. Pada akhirnya aku tak bisa melepaskan ketiga organisasi itu. Ketiga organisasi itu berarti untukku.

Aku hanya bisa melakukan semampuku dan berharap semoga ini adalah sibuk yang bermanfaat.



Ditulis: 22 Nopember 2016

Paman Jangan Racuni Aku dan Anakmu Kelak

Sumber foto: id.pinterest.com

Liburan panjang kali ini aku tak pulang ke kampung halaman, Lombok. Pikirku uang untuk pesan travel dan tiket pesawat bisa ditabung untuk keperluan kuliah.

Bulan juli depan aku juga harus mengikuti KKN (Kuliah Kerja Nyata) reguler yang diwajibkan kampus bagi mahasiswanya. Jadilah, rumah nenekku yang di Jawa menjadi tujuan mudikku.

Di dalam kereta aku merebahkan punggungku serta kepala ke kursi kereta. Kupalingkan wajahku ke kanan, berharap ada pemandangan yang bisa menemani kesuntukan malam ini. Tapi dari jendela kereta hanya terlihat cahaya-cahaya kecil pantulan lampu-lampu rumah warga.

Tut tut... tut tut...

“Penumpang sekalian, lima menit lagi kita akan sampai di stasiun Kalisetail. Harap bersiap-siap dan pastikan barang bawaan Anda tidak tertinggal. Terima kasih telah mempercayai PT Kereta Api Indonesia,” suara seorang wanita dari loudspeaker kereta. 

Akhirnya sampai juga.
Di stasiun kutoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari pamanku. Oh, itu dia sedang tersenyum padaku. Sudah satu tahun tak bertemu, pipinya terlihat semakin cekung. Ku salami lalu tanpa berlama-lama kami pun menuju rumah nenek.

Di atas motor, aku tanyakan soal calon istri paman. Ya, pamanku ini belum menikah padahal usianya sudah sangat matang.

“Alhamdulillah...akhirnya,” ucapku sambil diselingi tawa mendengar paman akhirnya sudah punya calon.

Bulan September mendatang ia akan menikah dengan seorang perempuan bernama Nuri. Nuri seorang perempuan yang pendiam, tapi dia cukup pandai bergaul dengan orang baru. Contohnya aku.

Sewaktu sedang menggoreng si tempe dan tahu di dapur, Nuri tiba-tiba mengagetkanku. Sutil dalam peganganku pun terjatuh. Itulah kali pertama aku mengenal calon istri pamanku.
Aku meminta pamanku mengajak Nuri ke ruang tamu daripada harus menungguku di dapur, karena aku malah jadi grogi. Haha

Selesai menggoreng si tempe dan tahu, aku menyusul ke ruang tamu untuk mengobrol bersama Nuri. Sedangkan pamanku sibuk memercikkan koreknya ke arah sigaret yang diapit mulutnya.

Ketika melihatnya, aku langsung mendumel panjang kali lebar. Aku tak suka bila pamanku merokok. Dulu ia batuk-batuk karena rokok, sekarang pipinya semakin cekung ya karena rokok, dan parahnya aku tak bisa berlama-lama di dekat orang merokok. 

Rokok seperti racun, tapi lebih berbahaya ketimbang racun biasa. Korban rokok tak hanya orang yang merokok itu sendiri, tetapi orang lain entah itu teman, kerabat, bahkan orang-orang yang tersayang pun bisa menjadi korbannya.  

Rasanya sesak ketika mencium asapnya. Sehingga, bila ada yang merokok aku akan menjauh darinya atau menutup hidungku dengan tangan dihadapan perokok.

“Iya.. ini kan sudah ngurangi. Satu hari cuman dua rokok lho,” ungkap pamanku.
“Hehe, iya tuh Nis marahin,” celetuk Nuri.

Aku bilang pada pamanku bahwa dia harus berhenti merokok ketika sudah berkeluarga nanti. Untung Nuri juga sepakat denganku. Dia ingin pamanku berhenti merokok ketika telah menikah dengannya.

Sudah banyak korban rokok dari kalangan anak-anak. Aku takut rokok yang menjadi cemilannya tiap hari bisa meracuni anaknya kelak. Paman, kumohon berhentilah merokok.  

Malam ini kami habiskan dengan ngobrol-ngobrol yang menurutku krik krik banget haha. Tapi tak apalah yang penting aku sudah mengajaknya bicara. Setidaknya melalui obrolan singkat itu, aku sedikit tau karakter calon istri pamanku.  
  


Tulisan ini dibuat tanggal 30-06-2017 baru dipublikasikan sekarang >.< hehe.
Pamanku sudah menikah bulan September lalu, semoga dia membaca ini dan berhenti merokok. :)

Nulis Puisi Suka-Suka

Berhubung TIGA puisi di bawah ini buatnya mendadak, buru-buru, biar bisa masuk di koran kampus pertengahan bulan Agustus 2016 kemarin, tapi akhirnya nggak masuk -_-‘ haha yaudah masuk ke blog sama majalah praktikum ajalah. #utuk utuk utuk :D 


Mahasiswa Baru
Terlampau bahagia si anak pribumi
Hari pertama masuk perguruan tinggi
Satu tekad terpatri
Menggores mimpi mencetak prestasi

Biar cahaya lindap tak peduli
Sebab mentari telah menghangat di hati
Duhai nanda bangunlah pondasi
Kokohkan iman, kuatkan diri
Banyak godaan membius hati

Dekatkan diri pada ilahi
Agar hati sejuk terpayungi
Carilah sahabat suka menasehati
Barangkali salah kau diingatkan kembali

Wahai ananda ini puisi untuk direnungi
Pandai berkonsentrasi tapi tidak percaya diri
Apalah arti berbisik dengan mulut terkunci
Tinggi jenjang, banyak tantangan menghantui
Tempik ragu rintangan dihadapi
Habis baca segera beraksi

Asap Mematikan
Sigaret jadi buah bibir dimana-mana
Katanya ini ulah penguasa
Meninggikan harga berlipat ganda
Kubu pendukung angkat bicara
Tak mengapa demi sehat jiwa raga balasnya

Gupuh aku berlari mengejar ayah
Mengadu padanya apa yang kudengar
Ayah membungkam menapak jalan
Meski bising aku bertanya
Ayah tak memberi jawaban

Kuterawang pikirannya
Menaruh curiga pada lintingan putih dijepit mulutnya
Kumainkan jariku memberi isyarat bahasa bisu
Mata merah, pipi cekung, bibir biru
Ah dia terbatuk lagi sudah kuduga
Terbirit-birit mendobrak pagar
Masuk rumah mencari pilnya

Mendadak gemuruh langit
Kilat sepenggal lalu naga petir menyembur
Langit merendah bak menyirat pesan
Dituntunnya aku melipir ruang
Merangsek masuk lalu..
terhenyak, terbelalak, menjerit bisu
Menyaksikan tubuh tersungkur kaku

Dia Ayahku
Candu pada sigaret
Meski kuceramahi berulang kali
Tak peduli dan dihisapnya lagi
Lintingan putih isi tembakau jadi misteri
Kini ditinggalnya aku sendiri
Mengarungi hari menelan sepi



Dirundung Memoar Siang
Malam, biarkan tubuhku menghangat meski angin berhembus
Malam, biarkan aku memejam mata dalam gelap
Malam, biarkan aku terlelap menghindari kecewaku pada siang
Bila pagi menggantikanmu,
biarlah mimpi baru membangkitkanku.
Bila pagi menggantikanmu,
katakan padanya aku telah berdamai pada siang.
Meski jauh di belakang waktu,
Aku masih menyimpan pilu.



By: Anisa Purwa Ningrum
Mahasiswa UMM jurusan Ilmu Komunikasi 2014 yang Punya Target Keluar Negeri Tahun 2017 :v #Et dah tinggal 2 bulan lagi. :D

*Boleh dicopy tapi sertakan juga nama saya ya! No plagiarism T_T buatnya juga nguras pikiran dan tenaga. #Hak Cipta Nih.. :')

KATA adalah virus

Edisi pengalaman pribadi penulis


Kata adalah virus yang dapat membangkitkan dan melumpuhkan seseorang.
Kata, meski tak berwujud namun efeknya luar biasa.

Saya akan menceritakan kisah nyata tentang VIRUS. Ya, tentu saja bahasan dari pengertian virus, cara kerja virus, dan efeknya. Tapi, saya akan bercerita satu jenis virus saja.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, virus adalah mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron. Virus juga berarti penyebab dan penular penyakit.



Saya mempunyai seorang adik laki-laki bernama Agha. Saat ini dia duduk dibangku kelas 5 SD. Dari dulu dia suka nyanyi, main, dan gambar. Ya samalah seperti layaknya anak-anak lainnya. Tapi dia yang dulu bukanlah yang sekarang (lagunya Tegar :v).

Beda di zaman saya dulu lagu anak-anak itu beragam. Sekarang lagu anak-anak sudah mendekati kepunahan (beuh, kayak binatang langka). Sedih sekali, ketika mengetahui lagu zaman sekarang kebanyakan soal cinta, putus, dan mantan. Benar? Pasti benar.

Saya tahu kalau benar karena Agha suka nyanyi cinta-cintaan dan galau-galauan. Miris!  Padahal waktu itu dia masih berusia sekitar 7 atau 8 tahun.

Lagu-lagu yang tidak sesuai umurnya itulah virus yang menjadikan tingkah dan pola pikirnya berubah sesuai dengan apa yang ia maknai. Virus itu terus menjangkiti Agha hingga usianya 10 tahun. Saya merasa bersalah karena hanya bisa mengomel dan menasehatinya agar suka dengan lagu anak-anak dibanding lagu dewasa.

Inilah yang baru saya sadari sekarang, mengandalkan anti virus tidak akan bertahan lama. Banyak pembuat virus baru yang sengaja berniat merusak sebuah perangkat. Saya putuskan untuk membuat sebuah virus baru yaitu virus positif.

Awalnya Agha selalu menyanyikan lagu dewasa. Sekalipun saya beradu lagu anak-anak dengannya, ia pun mendengus sambil berkata, “Itukan lagu anak kecil!” Saya terdiam mendengarnya, mau tertawa.. tapi ya sudahlah. Mungkin dia sudah merasa bukan anak kecil lagi.

Kebetulan di rumah ada CD jadul punya ibu. Kebanyakan adalah lagu Nike Ardilla, seorang penyanyi terkenal di zamannya yang meninggal dunia karena kecelakaan mobil (dengar-dengar sih gitu). Dengan percaya dirinya Agha mendendangkan lagu Nike Ardila sambil berjoget riya. Ibu dan saya terkekeh-kekeh melihat tingkah adik ‘kecilku’ ini (meskipun sebenarnya bertubuh besar alias ‘agak’ gendut :D).

Setiap kali dia menyetel lagu itu atau menyanyi lagu dewasa, saya pun balas menyanyikan lagu anak-anak seperti trio wek wek, Thasya, Sherina, dan Marshanda. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya saya harus kembali keperantauan (KULIAH). Meninggalkan Agha tanpa pengawasan jauh mengkhawatirkan dibanding meninggalkan kampung halaman.

Saya bisiki ibu, “Bu, coba awasi Agha. Dia suka sekali nonton acara sinetron yang berantem. Anis takut nanti dia jadi pemarah dan suka mukul. Apalagi banyak kata-kata kasar dari sinetron dan acara tv” Ibu mengangguk dan tersenyum sambil mengiyakan permintaan saya.

Empat bulan berlalu. Liburan Ujian Akhir Semester (UAS) 2016 lumayan panjang membuat saya ingin balik ke kampung halaman menengok keluarga terutama si kecil (Agha). Mungkin yang ada dipikiran teman-teman adik saya masih kecil. Tidak. Saya mengatakan kecil dikarenakan usianya yang paling muda di antara kami dan kecil telah menjadi panggilan sayang untuknya. Meskipun dia kadang ngambek dipanggil kecil X-D

Perjalanan yang melelahkan hingga sampai di rumah ibu menyuruh untuk langsung beristirahat di kamar. Sampai di kamar ada sebuah tulisan yang luar biasa membuat saya terharu. Ini adalah mading di kamar saya. Ada lembar baru yang menancap di tubuh mading.

Aku ingin mendapatkan nilai 100° persen untuk masa depan yang aku inginkan yaitu ingin menjadi pilot yang baik hati. Semoga yang aku impikan itu sungguh-sungguh terjadi amin. Kita mudah pintar tapi kalau kita tidak mau belajar kita tidak akan menjadi apa yang kita inginkan itu. Maka kita semua ini akan menjadi anak bangsa yang luar biasa maka hujutkanlah cita-cita kalian yang sebenarnya dan untuk kehidupan bangsa.
Salam manis
Aga

Tulisan itu membuatku tersenyum geli dan terselip tawa ketika melihat tulisan ‘100° persen dan hujutkanlah’. Ya, saya tahu yang dia maksud adalah 100% dan wujudkanlah. Tulisannya tetap sarat akan makna. Walau sebenarnya tulisan itu begitu berat untuk dibaca karena bahasanya tinggi amat. Hehe.

Saya jadi ingat pesan guru di sebuah komunitas yang saya ikuti. Katanya, menulislah dari hati. Tulisan yang benar-benar dibuat dengan melibatkan emosional akan membuat pembacanya pun merasa ikut dalam cerita. Ya benar, tulisan Agha adalah tulisan dari hati.  

Ada yang lebih suprise lagi! Suatu sore Agha memutar kaset trio wek wek yang judulnya Bis Sekolah.

Bis sekolah yang tlah lama kutunggu..
Dengan teman-temanku..
. . .
Kita belajar supaya pintar..
Kejar terus cita-citamu!
. . .

Ditambah lagi dia menyanyikan lagu sherina yang judulnya I have a dream. Senangnya.. Agha menyanyikan lagu itu yang saya rasa di setiap baitnya terdapat makna baik. Hehe.  

Berdasarkan pengalaman saya, pola pikir dan tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh kata-kata yang ia serap. Ketika dia banyak menyerap kata-kata baik maka kata-kata itu tersimpan di otaknya dan bisa jadi dipraktikkan melalui tindakannya.

Lindungilah keluarga dan sahabatmu dari perkataan yang tidak bermakna atau menyudutkan. Berhati-hatilah pula dengan lisan yang sulit terjaga ketika marah. Saat hendak mengucapkan kata-kata yang tidak baik seperti menyudutkan, meremehkan, mengolok-olok, dan sebagainya pikirkanlah akibatnya ketika kata-kata itu terlontar.

***

Mungkin apa yang dikatakan orang dengan ‘mengajak seseorang ke dalam kebaikan tidak selamanya dengan aksi secara fisik tetapi dengan perilaku kita sendiri.’ Bagaimana cara kita bersikap bisa jadi membuat orang meniru, tertular, atau ingin menjadi seperti kita.

Selama masih SMA, Agha jarang masuk ke kamar saya. Mungkin setelah kuliah di luar daerah, Agha kerap melihat tulisan motivasi di mading kamar. Ya, mungkin. Mulai sekarang, saya harus berhati-hati dalam berucap, mengurangi menulis suatu yang tidak bermanfaat maupun bersikap yang kurang terpuji. Semoga virus positif lebih mendominasi di tubuh saya dan teman-teman.

Cara kerja virus seperti yang saya ceritakan di atas bisa dimulai dari hal kecil. Menasehati, marah, dan sejenisnya, sah-sah saja asal tetap memperhitungkan dampak atau istilah kedokterannya efek samping bagi lawan bicara kita.

Cara kerja virus positif berbeda-beda. Ada yang cepat ada juga yang lamban. Cerita nyata saya dan Agha adalah salah satu contoh cara kerja virus yang lamban. Ibaratkan saja seseorang seperti sebuah komputer.

Meskipun beragam antivirus sudah kita install/ pasang, virus masih ada dan masuk lewat plasdisk, internet, atau usb lainnya. Jika tidak segera ada tameng yang melindungi komputer maka bisa berdampak kerusakan, kehilangan file/ dokumen, dan parahnya bisa mengakibatkan komputer mati total alias nggak bisa hidup lagi.

Jadi, selain antivirus buatlah juga virus positif. ~he.

Saya menyesal menyadari kesalahan saya adalah ketidakmampuan bersikap sesuai dengan apa yang sudah saya katakan. Sehingga adik meniru lagi sikap saya yang buruk. Saya harus berubah lebih baik secepatnya agar virus lain di dalam tubuhnya tidak menjalar ke bagian  lain dan menguasai dirinya.


Terima kasih sudah membaca.

#Salam #GenerasiPositif ~Senyum.

Kisah Inspiratif: Kita Adalah Apa yang Kita Pikirkan

Kisah Inspiratif: Kita Adalah Apa yang Kita Pikirkan
Dua prajurit Amerika Serikat menjadi tawanan perang di Jepang selama Perang Dunia Kedua. Keduanya selamat dan melanjutkan hidup mereka di tanah air mereka sendiri. Lima puluh tahun kemudian, keduanya bertemu kembali dalam sebuah reuni pada tahun 1995. Di masa ini, Jepang dan Amerika Serikat sudah menjadi sekutu dekat. Segalanya sudah berubah.
Salah satu dari mantan tawanan itu bertanya kepada teman satu perjuangannya itu, “Sudahkah kau memaafkan mereka yang memenjarakanmu?”
“Belum,” sahut mantan tawanan kedua dengan berapi-api.
“Tak akan pernah aku memaafkan mereka.”
“Kalau begitu,” kata mantan tawanan pertama dengan lembut, “tampaknya kau masih terbelenggu dalam penjara mereka.”
Ajaran Buddha dalam Dhammapada yang agung dimulai dengan kalimat-kalimat yang akan selalu melekat dalam ingatan :
Kita adalah apa yang kita pikirkan.
Segala yang kita bangkitkan berasal dari
pikiran kita.
Dengan pikiran, kita membentuk dunia ini.
Berbicaralah atau bertindaklah dengan
pikiran tercela,
maka kesulitan akan mengikutimu.
Laksana roda yang mengikuti ke mana pun
lembu menarik pedati.
Kita adalah apa yang kita pikirkan.
Segala yang kita bangkitkan berasal dari
pikiran kita.
Dengan pikiran, kita membentuk dunia ini.
Berbicaralah atau bertindaklah dengan
pikiran mulia,
Maka kebahagiaan akan mengikutimu.
Laksana bayang-bayang dirimu,
tak terceraikan.


I am muslim. I just wanna say: Setiap agama memiliki ajaran budi pekerti luhur. J
Buku bacaan: Menulis Di Atas Pasir

Kisah Inspiratif: Bagaimana Bersikap

Kisah Inspiratif: Bagaimana Bersikap
Dr. S Radhakrishnan, seorang filsuf besar dan mantan Presiden India, melakukan kunjungan perdana ke Amerika Serikat di masa pemerintahan John F. Kennedy. Cuaca saat itu gelap dan badai tengah melanda Washington. Saat Dr. Radhakrishnan turun dari pesawat, hujan lebat mengguyur dari langit.
Presiden Amerika yang masih muda tersebut menyambut sejawatnya dari India dengan jabat tangan erat dan senyum hangat. “Mohon maaf, cuaca yang sangat buruk bertepatan dengan kunjungan Bapak,” sapa Presiden Kennedy dengan sopan.
Sang filsuf dan negarawan India tersebut tersenyum. “Kita tidak bisa mengubah hal-hal buruk yang harus terjadi, Bapak Presiden,” balasnya. “Tapi kita bisa mengubah cara kita menyikapinya.”

***
Ada kisah lain tentang seorang pria yang saya temui di Pune. Pria itu sedang duduk di tepi jalan, dan ia mengalami cacat mulai dari pinggang ke bawah. Kakinya tidak utuh, hanya sepenggal saja.
“Apa yang terjadi dengan Anda?” Saya bertanya.
“Tidak ada!” jawabnya. “Saya terlahir seperti ini.”
“Maafkan saya karena telah bertanya kawan, siapa yang merawat Anda?” saya
kembali bertanya.
“Ibu saya dan terutama, Tuhan.”
“Apakah Anda mengalami kesulitan atau ketidaknyamanan untuk bergerak?”
“Apakah Anda mengalami kesulitan atau ketidaknyamanan karena Anda tidak memiliki sayap?” ia balik bertanya. “Bukankah akan jauh lebih baik jika Anda sendiri bisa terbang daripada harus menunggu jam keberangkatan pesawat?”
“Hidup adalah perkara kebiasaan,” imbuhnya. “Jika Anda mulai berkeluh kesah, akan ada begitu banyak hal untuk dikeluhkan. Bagaimana cara Anda menyikapi hidup itulah yang terpenting.”



You get it? 
Kutipan pada cerita kedua "Bagaimana cara Anda menyikapi hidup itulah yang terpenting" kata-kata itu seakan tersemat dalam pikiran saya. Semoga cerita di atas tidak hanya menjadi motivasi tapi juga menjadi pengetahuan baru agar kita senantiasa berpikir positif dan mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu. Harapannya kisah-kisah inspiratif seperti ini dapat memotivasi dan menjadikan diri kita pribadi-pribadi dewasa. J 
#Salam #GenerasiPositif
Buku bacaan: Menulis Di Atas Pasir